Posts

[CERPEN] Love Is Blue

Yap! Saya kembali. Kini saya menciptakan sebuah karya yang telah dipesan oleh teman saya. Kisah cintanya yang absurd karena terhalang banyak hal dan ternyata sekarang ia menyerah dan berniat untuk move on! Haha. Maaf, maaf. Saya terlalu banyak mengejeknya dan tidak ingat bahwa kisah cintaku juga absurd. Ok! Cerita absurd ini didedikasikan kepada teman saya @Rahmape. Semoga cerita absurd ini menghibur pembaca semua. Terimakasih! Love Is Blue Ku mantapkan hati ketika berdiri di sini. Di depan sana terlihat sebuah gerbang besar berwarna merah di lapisan pagar luar dan berwarna hitam di lapisan keduanya. Itu adalah sekolahku. Sekolah yang katanya ditunjuk sebagai sekolah rujukan ini sudah menjadi tempat ku menuntut ilmu selama hampir dua tahun ini. Aku berjalan menyusuri lobi, kemudian langsung bertemu dengan sebuah lapangan basket yang dikelilingi gedung kelas bertingkat dua. Tak sampai satu menit setelah itu, aku menemukan kelasku. Kelas itu sudah ramai. Yah, aku memang buka...

KENANGAN SATU JALAN

hay... maafkan saya yang telah lama menghilang. tapi, saya masih ingin berada di sini, kok. langsung saja ke cerita saya yang satu ini. oh iya, untuk seseorang disana yang merasa kenangannya saya pakai untuk cerita ini, mohon maaf sekaligus saya ucapin terimakasih banyak. haha. next, cekidot! KENANGAN SATU JALAN Selangkah meninggalkan gerbang sekolah, setitik air hujan membasahi dahi ku. Kupandang langit, ada awan hitam di sana. Mungkin sebentar lagi hujan akan turun. Seperti hari-hari biasanya, aku selalu sendiri dalam perjalanan pulang menuju rumah. Itu membuatku selalu menikmati perjalanan dengan bermain bersama kenangan-kenangan indah ku lima tahun yang lalu. Waktu itu, aku baru mendaftar di sekolah menengah pertama. Ditemani oleh Ibu, aku mendatangi dan mengisi formulir yang disediakan. Dan tepat setelah itu, aku bertemu seorang lelaki sebayaku. Seseorang yang tak ku sangka akan mewarnai hari-hariku selanjutnya. “Hai, namaku Zidan,” sapanya. “Aku Erin.” “Salam ke...

Bukan Cinta, tapi Monyet

Aku berdiri sejenak di depan sebuah gerbang besar dengan tulisan SMK Angkasa Dharma Palembang. Angin pagi berhembus pelan, membuat ujung-ujung kerudungku yang kubiarkan mejuntai melambai-lambai kesana-sini. Banyak gadis-gadis dan juga beberapa lelaki sebayaku yang melewatiku dan masuk ke gerbang hitam yang tampak seperti ingin menelan apapun di depannya. Aku menghela napas berat, kemudian menggeret kaki ku yang tiba-tiba terasa kaku melewati gerbang hingga masuk ke lapangan basket. Namaku Sania Dwi. Biasa dipanggil Sani di sekolah. Umurku genap enambelas tahun bulan Mei lalu. Akhir-akhir ini aku merasa gelisah. Entah kenapa, seperti ada gumpalan yang mengganjal di sisi kanan otakku. Ekor mataku liar hingga mendapati sesuatu di lapangan parkir yang jauhnya sekitar limabelas meter dari tempat berdiri ku sekarang. Sebuah sepeda motor matic warna ungu. Dan entah kenapa aku tersipu malu setelah itu. Aku berhenti kembali di dua langkah sebelum sampai di ambang pintu kelas de...

Maaf..

Waaaa~~ kangen. lama gak ngepost disini. saya lg suka ngepost karya di akun wattpad saya. jadi, karya yang lain bisa ditemui di akun wattpad saya @IstifaraniAping . bantuan komen dan vote sangat dibutuhan bagi pemula seperti saya. kalo ada ide baru, saya post cerpen disini lagi. terimakasih.

Never Give Up! (Part 3)

Bel pelajaran berakhir telah berbunyi. Kalian tahu, hari begitu cepat berlalu. Karena saat ini bahkan pelajaran hari senin telah selesai mereka lewati. Adhan dan Eza sudah di ruang latihan semenjak bel pelajaran ke delapan tadi. Mereka memilih bolos pelajaran Matematika daripada tiba-tiba meledak di depan Pak Rogel karena kekesalan mereka masih berlanjut sampai sekarang. Ria dan Monika datang menyusul, siap dengan celana olahraga yang akan mereka pakai untuk latihan. “Mana Lia?” Adhan berlagak mengabsen anggota nya. “Tadi gue ke kelas nya. Teman-temannya bilang dia gak masuk karena sakit.” Ria menjelaskan. “Apa luka nya separah itu?” Monika cemas, diikuti oleh Eza yang ikut berdiri. “kita harus jenguk dia.” “Tapi kita gak tahu alamatnya, kan?” Eza menimpali. “Kita cari aja di buku daftar siswa di tata usaha. Pasti ada.” Adhan mengusulkan. Tiba-tiba ponsel Ria berdering. Panggilan dari Papa nya. “Halo, Pa?” “Halo, Ria? Kamu bisa pulang sekarang? Dedek kamu mau lahir.”...